Kamis, 16 Desember 2010

Urbanisasi untuk sesuap nasi.



Aku hanya perantau........
yang berjalan menuju arah keberhasilan
bila dalam perjalanan aku bercerita
itu hanya cerita dalam perjalanan
yang kadang hilang tertelan waktu
dan kehidupan ini
yang pasti aku menemukan banyak teman yang sangat luar biasa
yang menambah kekuatan dan kedewasaanku
dalam perjalanan ini
sungguh
kekayaanku bukan yang kubawa
tapi kekayaanku adalah saat aku menjadi bagian cerita ini
karena aku tetap perantau
yang berusaha memberikan cerita yang indah dalam perjalanan hidup ini.
 
  Wis wani nglangkah galur, wis wani kabehane
 
Menulis dalam keheningan teringatlah aku akan kampung halaman yang sekarang telah aku tinggalkan, Sejujurnya kampung halaman yang selalu aku rindukan di mana diriku di lahirkan meyimpan berjuta kenangan. Bagi orang jawa merantau adalah sebuah tradisi, setidaknya catatan ini ku buat untuk sekedar berbagi bagaimana seharusnya menjalani  hidup di rantau. Sebelum kita merantau ada baiknya kita bersiap bekal,baik itu bekal ilmu maupun bekal iman keduanya harus ada dalam diri seorang perantau,ilmu tanpa iman akan membuat hidup kita lepas kendali gampang terombang-ambing lautan dan ombak kehidupan demikian juga iman tampa ilmu akan membuat kita tergilas roda-roda zaman yang tak pernah mengenal belas kasihan. Setelah keduanya ada dalam diri kita berangkatlah kita meninggalkan kampung halaman dengan berurai air mata di lepas dengan iringan doa dan harapan jangan sampai lupa mintalah doa kepada orang-orang terdekat kita,terutama orang tua, setelah itu melangkahlah dengan penuh harap dan semangat jangan berpaling ke belakang,itu akan membuat kita  selalu terkenang. Seandainya rencana awal kita gagal di perantauan janganlah cepat berputus asa karena sudah sangat wajar orang gagal ketika pertama melangkah,alangkah tidak eloknya baru pertama gagal sudah memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.jangan dulu pulang kampung jika belum berhasil meraih apa yang kita cita-citakan. Slogan yang sampai sekarang ku pegang ketika merantau adalah sebuah pribahasa ” di mana bumi di pijak di situ langit di junjung”  artinya jika kita tidak ingin gagal dalam merantau maka kita harus punya kemampuan berdapatasi dengan baik,hal ini begitu mudah di ucapkan tapi kenyataannya sangatlah sulit untuk di praktekan. Semakin jam terbang bertambah di dunia rantau maka kita bisa belajar dari pengalaman,tidak usah takut dan cemas tidak bisa makan,diriku pribadi merantau sejak tamat STM, alhamdulillah sampai sekarang masih bisa makan. yang terpenting usaha dulu baru berdoa terus terang kebanyakan kita terlalu asyik berdoa tapi agak malas berusaha.he he he idealnya berimbang doa tekun usaha rajin.